Kematian Akibat Luka Tembak Sangat Dekat

Abdul Gafar Parinduri

Abstract


Saat ini korban karena kekerasan luka tembak, sangat sering didapati karena semakin banyak anggota masyarakat sipil memiliki senjata api, baik untuk pertahanan diri, maupun untuk tujuan lain. Pada prinsipnya pemeriksaan korban luka tembak, sama halnya dengan pemeriksaan luka pada trauma lain, namun ada satu yang spesifik yaitu dokter harus mengetahui dan memahami tentang senjata api, amunisi dan peluru(1). Pada luka tembak terdapat dua jenis luka, diantaranya, luka tembak masuk dan luka tembak keluar. Luka tembak masuk terdiri dari: luka tembak tempel (contact wound), Luka tembak sangat dekat (close wound), luka tembak dekat (near wound), dan luka tembak jauh (distant wound)(1,2).Laporan kasus ini bertujuan untuk menentukan perihal penyebab kematian korban yang ditemukan melalui pemeriksaan forensik dan histopatologi, apakah korban meninggal karena bunuh diri, pembunuhan atau kecelakaan. Kasus terjadi di Serdang Bedagai, seorang perempuan umur 45 tahun, korban ditemukan meninggal di rumahnya. Pada pemeriksaan luar dan dalam dijumpai satu luka tembak masuk pada pipi sebelah kanan menembus rongga mulut, merobek pembuluh darah besar leher kanan, menembus paru-paru kanan bagian atas, menembus tulang iga 5 dan 6 kanan bagian belakang, proyektil berada di lapisan otot punggung kanan, dijumpai luka tembak masuk pada leher kanan, menembus kulit leher kanan (luka tembak keluar) dan dijumpai luka lecet dari leher kanan ke rahang kiri bawah (saluran anak peluru).   Kesimpulan bahwa bahwa penyebab kematian korban adalah mati lemas akibat perdarahan yang banyak pada rongga dada oleh karena anak peluru (proyektil) yang menembus jaringan paru akibat luka tembak sangat dekat dan korban diduga dibunuh.

Kata kunci:  Kekerasan, Luka Tembak, Pembunuhan


Full Text:

PDF

References


Dahlan S, Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak Hukum, Cetakan Ke 3, Universitas Diponegoro Semarang 2000, Hal 93-106.

Amir Amri, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, Edisi ke II cetakan ke 3, Tahun 2007, Hal 91-103.

Gani MH. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik. Fakultas kedokteran Universitas Andalas, Padang 2002 .Hal 50-54.

Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1997. Hal. 44-80.

Bernard Knight, Forensik Pathologi, second edition, Arnold, New York 1996, Hal 243-73.

Nandy A.Principles of Forensic Medicine. New central book agency (p) ltd. Calcuta.India: 1996: Hal 240-65.

Hamdani N. Ilmu Kedokteran Kehakiman, Edisi II, PT. Gramedia, Jakarta, 1992. Hal.109-16.

Idries Munim Abdul, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama, Jakarta, 1997. Hal. 44-80.

Chada PV. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi, Edisi V, ahli bahasa J. Hutauruk, Widya Medika, Jakarta, 1995. Hal 76-83.

Wahid, S.A. Patologi Forensik. Kematian akibat luka tembak. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1973. Hal. 192-228




DOI: http://dx.doi.org/10.30596%2Famj.v4i1.6649