Menuju Ke Arah Pengembangan Ilmu Falak

Ahmad Junaidi

Abstract


Abstrak

Pragmatisme, barangkali inilah racun yang sedang menjangkiti umat Islam. Tidak terkecuali para ilmuwannya, termasuk di dalamnya ilmuwan Falak. Apa yang sudah diletakkan dasar-dasarnya secara massif oleh salafus salih seakan hilang atau tidak mampu kita warisi. Sehingga Ilmu Falak hanya mengkaji waktu ibadah, yang itupun masih jauh dari kemaslahatan umat karena masih banyak menyisakan persoalan dalam penyatuan waktu ibadah umat Islam. Lebih parah lagi yang terjadi di Indonesia, sebuah metode bisa berubah menjadi aliran yang menjadi penciri dari organisasi kemasyarakatan. Sehingga gesekan antar ormas-pun sulit dihindari akibat perbedaan tersebut. Maka sudah waktunya kita kembalikan Ilmu Falak pada khittah asalnya, sehingga terbebas dari reduksi-reduksi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pereduksian bidang kajian Ilmu Falak tidak membuat pemahaman terhadap ilmu ini semakin baik, tapi hanya mengarahkan kepada pragmatism berfikir dan mengkotak-kotak umat. Maka semangat integrasi keilmuan  dan unity of science yang diusung UIN, kita jadikan pijakan untuk mengembalikan Ilmu Falak kepada konsep awal yang digagas para pendahulu. Untuk mencapai hal tersebut, ada 2 hal yang harus segera dipersiapkan, yakni kurikulum dan sarana teknologi untuk menopangnya.

Kata Kunci: ilmu falak, kauniyah, integrasi


Full Text:

PDF

References


Daftar Pustaka

Abdul ‘Aziz Dahlan (ed.), Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. I, Jilid I, 1997).

Agung Sudaryono, Latar Belakang dan Profil Lembaga Pengelola Dama Pendidikan (Jakarta: Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana Kementerian Keuangan, 2014).

Ahmad Baiquni, Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, Cet. IV, 1996).

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. V, 1995).

A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab–Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, Edisi Kedua, Cet. XIV, 1997).

A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an Text Translation and Commentary, (USA: Amana Corp, 1934).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Edisi Kedua, Cet. IX, 1999).

E. J. Brill’s, First Encyclopaedia of Islam 1913-1936, (Leiden: E.J. Brill, vol. III, 1993).

E. Van Donzel, Islamic Desk Reference, (Leiden: E. J. Brill, 1994).

Hafidz Dasuki, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. I, Jilid I, 1994).

John L. Esposito, The Oxford Encyclopaedia of The Modern Islamic World, (New York: Oxford University Press, vol. I, Cet. I, 1995).

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983).

Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800 – 1350; with an Intruduction to Medieval Muslim Education, terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah (Surabaya: Risalah Gusti, 2003).

Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004).

P. Simamora, Ilmu Falak (Kosmografi), (Jakarta: CV. Pedjuang Bangsa, Cet. XXXII, 1987).

Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jilid 4, tt.).

https://id.wikipedia.org/wiki/NASA (diakses 10 Januari 2016).

http://print.kompas.com/baca/2015/10/29/Jumlah-Guru-Besar-di-Indonesia-Masih-Minim (29 Oktober 2015).

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_astronomical_observatories (10 Januari 2015).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.