Ketajaman Mata Dalam Kriteria Visibilitas Hilal

Muhammad Faishol Amin

Abstract


Abstrak

 

Dalam kriteria visibilitas hilal, ada beberapa faktor yang seharusnya menjadi variabel pendukung dalam perumusan kriteria, diantaranya adalah faktor konfigurasi benda langit (Astronomi), Geografi, Meteorologi dan kualitas instrumen, dalam hal ini kualitas instrumen dapat berupa teleskop dan juga organ mata sebagai subjek utama dalam rukyatul hilal, yang nantinya akan berhubungan dengan faktor akuitas mata (ketajaman mata). Berdasarkan praktek dilapangan, kriteria visibilitas hilal ini tidak pernah menerapkan faktor ketajaman mata sebagai acuan perumusannya, namun Judhistira Aria Utama bersama Binta Yunita sempat meneliti tentang hal tersebut, ia mengkaji faktor ketajaman mata dan penerapannya dalam kriteria visibilitas hilal Kastner. Ia juga berusaha untuk memecahkan kasus pengamatan hilal rekor dunia yang menurut kriteria Kastner tidak mungkin dapat diamati, tetapi dalam prakteknya berhasil untuk diamati. Dari kajian tersebut disimpulkan bahwa : 1) Faktor ketajaman mata sangat berperan penting dalam berhasil tidaknya hilal terlihat saat pengamatan, hal tersebut dikarenakan kemampuan mata tiap individu yang berbeda-beda, ada yang normal, ada yang dibawah normal (cacat), bahkan ada yang mempunyai kemampuan mata diatas normal. 2) Dalam prakteknya faktor ketajaman mata belum pernah diterapkan, baik dalam kriteria visibilitas hilal, maupun dalam penetapan awal bulan Kamariah. 3) Ketajaman mata harus dipertimbangkan dalam rukyatul hilal, meskipun hal tersebut dirasa rumit jika diterapkan dalam sebuah kriteria, namun ada alternatif lain yang bisa dipakai yaitu menjadikan faktor ketajaman mata sebagai bahan pertimbangan atau bahan verifikasi terhadap laporan hasil rukyatul hilal. Jadi dalam penerimaan atau penolakan sebuah laporan rukyatul hilal harus ada faktor ketajaman mata dari pengamat yang berhasil melihat hilal, yang menjadi pertimbangan mungkin tidaknya hilal dilihat oleh orang tersebut.

Kata Kunci : Rukyatul Hilal, Ketajaman Mata, Kriteria Visibilitas Hilal


DOI:

https://doi.org/10.30596/jam.v3i2.1526


Full Text:

PDF

References


Daftar Pustaka

Binta, Yunita dan Judhistira, Model Visibilitas Kastner dalam Kasus Hilal Rekor Dunia dengan Menyertakan Faktor Akuitas Mata Pengamat. Prosiding Seminar Nasional Sains Antariksa (SNSA), LAPAN. 2016.

Caldwell, JAR and Laney, First Visibility of the Lunar crescent, MNASSA, Vol.58, Nos. 11&12, Tahun 2001.

Djamaluddin, Thomas. Naskah Akademik Usulan Kriteria AstronomisPenentuan Awal Bulan Hijriyah, pada https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/04/19/naskah-akademik-usulan-kriteria-astronomis-penentuan-awal-bulan-hijriyah/ diakses pada 20 November 2017, pukul 11:56 WIB.

Draf Keputusan Muzakarah Rukyah dan Takwim Islam Negara Anggota MABIMS ke-16, 2-4 Agustus 2016, Kompleks Baitul Hilal, Port Dickson, Negeri Sembilan.

Gabriel, J.F. Fisika Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996.

Hoffman, Roy E. Observing The New Moon, Mon. Not. R. Astron Soc.340, 2003.

Ilyas, M. Limiting Altitude Separation in The New Moon’s First Visibility Criterion. Astron Astrophys, Vol.206. Tahun 1988.

Kastner, Sidney O. Calculation of The Twilight Visibility Function Of Near-Sun Object, The Journal Of The Royal Astonomical Society Of Canada Vol.70 No.4. Tahun 1976.

Kerrod, Robbin. Bengkel Ilmu Astronomi, Jakarta : Penerbit Erlangga, 2005..

LF PBNU, Surat Penjelasan LFPBNU tentang Penentuan Awal Bulan Muharram1439 H. Nomor : 037/PBNU-LF/IX/2017 M.

Nurmianto, Eko. Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Widya, 1996.

Odeh, Mohamad SH. New Criterion for Lunar Crescent Visibility, Experimental Astronomy 18:39-64.

Schaefer, Bradley E. Telescopic Limitng Magnitudes, Publications of The Astronomical Society of The Pasific, February 1990.

Suhardiman, Kriteria Visibilitas Hilal dalam Penetapan Awal Bulan Kamariah di Indonesia. Jurnal Khatulistiwa. Vol. 3. No.1.

Sultan, A. H. Explaining and Calculating The Length Of The New Crescent Moon. The Observatory Journal Vol.125. Tahun 2005.

_____.First Visibility of The Lunar Crescent : Beyond Danjon’s Limit. The Observatory Journal Vol.127. Tahun 2007.

Tjokrovonco, Ludwig Melino. Peranan Sensitivitas Kontras dalam Fungsi Penglihatan, Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universiatas Padjadjaran. 2017.

Utama, Judhistira A. dkk. Criteria Of Hilal Visibility in Indonesia by Using Kastner Model, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol.9 Tahun 2013.

_____, Penentuan Parameter Fisis Hilal sebagai Usulan Kriteria Visibilitas di Wilayah Tropis. Jurnal Fisika Vol. 3 No.2, Nopember 2013.

Yallop, B.D. A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon, NAO Technical Note No.69.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan is abstracting & indexing in the following databases:
  

Creative Commons License
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN 2442-5729 (print) | ISSN 2598-2559 (online)

 
View My Stats