MANFAAT PENAMBAHAN SULBAKTAM PADA SEFOPERAZON TERHADAP METISILIN RESISTEN STAPHYLOCOCCUS AUREUS POSITIF ENZIM BETALAKTAMASE

Ance Roslina

Abstract


Metisilin Resisten Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu bakteri patogen penyebab infeksi. Bakteri ini penting karena resistensinya terhadap antibiotik betalaktam dan kecendrungannya menjadi resisten terhadap antibiotik lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM) untuk mengetahui kadar inhibisi MRSA terhadap antibiotik Sefaperazon dan campuran Sefaperazon Sulbaktam. KHM Sefoperazon terhadap MRSA berkisar ≥50-100 %, sedang KHM Sefoperazon Sulbaktam ≥1,56-100%. Uji difusi metode Kirby Bauer dengan menggunakan konsentrasi yang sesuai dengan uji dilusi juga dengan menggunakan konsentrasi yang ada dipasaran. MRSA memberikan reaksi sensitif pada konsentrasi ≥ 6,25 %. Pada uji difusi terhadap konsentrasi obat dipasaran, Sefoperazon Sulbaktam konsentrasi 50/50 MRSA bereakai sensitif sebanyak (6,7%), konsentrasi 70/30 (33,4%), konsentrasi 60/40 (80%)  dan pada konsentrasi 80/20 (100%). Kesimpulan Sulbaktam dapat menurunkan resistensi bakteri penghasil β-laktamase.

Kata kunci: Antibiotik Sefoperazon, Meticillin Resisten Staphylococcus aureus

DOI:

https://doi.org/10.30596/isb.v2i1.1899


Full Text:

PDF

References


Warsa, U.C. 2004. Perkembangan Resistensi Antibiotika Dirumah Sakit dan Masyarakat. Upacara pengukuhan Guru Besar Tetap Mikrobiologi FKUI: Jakarta.

Subandrio, A. 2004. Role of β-lactamase in susceptibility of clinical isolate to β-lactam antibiotics. Medical journal of Indonesia; UI, Jakarta. 13(3).8

Ibrahim, F. 2006. Emerging Gram positif Resistance Pathogen; Jakarta Antimicrobial Up date; Jakarta.

Istiantoro, Y.H.,Gan VHS. 2004. Pengantar Antimikroba; Penisilin, sefalosporin dan antibiotik betalaktam lainnya. Farmakologi dan Terapi; Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI.622-650. 10

Brooks, F.G., Butel JS, Morse SA, Jawetz, Melnick & Adelberg’s. 2004. Medical Microbiology; Antimicrobial Chemotheraphy; Boston: Mac Graw-Hill. 16

Fridkin, S.K., Hageman, JC. Morrison, M. Sanza, LT. Sabetti, KC. Jernigan, JA. Harriman, K. Harrison, LH. Lynfield, R. Farley, MD. 2005. Methicillin resistant Staphylococcus aureus disease in three communities: N Engl J Med :352:1436-44. 1

Fluit, A.C., et al. 2004. MRSA; Current Perspective: Book Review; J Antimicrobial and Chemotherapy:53:552.

Reynold, R.,et al. 2004. Antimicrobial Susceptibility of the phatogens of bacteremia in the UK and Ireland 2001-2002: the BSAC bacteremia resistance surveillance programe: J. Antimicrobial and Chemotherapy:53:1018-1032.9

Koletar, S.L. 2004.”Concept in antimicrobial therapy”. In: mahon C, Manusellis G. Textbook of Diagnostic Microbiology.2nd ed. Boston: Mac Graw-Hill.18

Brown, D.F.J., Edwards DI, Hawkey PM, Marrison D, Ridgway GL, Towner KJ, Wren MWD. 2005. Guidelines for the laboratory diagnosis and susceptibility testing of methicillin-resistant Staphylococcus aureus; J of Antimicrobial and Chemotherapy:56(6):1000-1018.

Noviana, H. 2004. Isolasi dan Uji kepekaan isolat klinis ORSA dan nonORSA terhadap vankomisin dan antibiotik lainnya., Jurnal Mikrobiologi Indonesia.9:51-54.4

NCCLS (National Committee for Clinical Laboratory Standards). 2005. Performance Standards for Antimicrobial Susceptibility Testing; Fifteenth Information Supplement: Clinical and Laboratory Standards Institute, USA.

Laboratorium Klinik Mikrobiologi. 2003. Hasil Uji Resistensi Bakteri Terhadap Berbagai Antibiotika, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.15

Sostroasmoro, S. dan Ismael S. 2011. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. 30


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by: