Diagnosis Cepat (Rapid Diagnosis) Dengan Menggunakan Tes Sederhana Dari Sekret Hidung Pada Penderita Rinosinusitis

Siti Masliana Siregar

Abstract


Abstrak: Sinusitis adalah suatu penyakit yang paling sering dijumpai pada tingkat layanan primer, dimana di Amerika Serikat dapat dijumpai sebanyak 32 juta kasus sinusitis pertahunnya. Saat ini sinusitis lebih sering disebut dengan rinosinusitis oleh karena kaitan anatomi yang erat antara hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukosa atau selaput lendir sinus paranasal. Berbagai faktor berperan penting dalam perkembangan sinusitis, meskipun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Faktor tersebut meliputi faktor intrinsik yang terdiri dari faktor sistemik dan lokal serta faktor ekstrinsik.

Hidung dan sinus paranasal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh karena berhubungan erat dalam patofisiologi suatu rinosinusitis. Silia padda hidung dan sinus paranasal bergerak secara ritmik sekitar 9 mm/ menit dimana waktu pembersihan silia (mucociliary clearance time) dengan transport saccharine sekitar 7-11 menit. Sel-sel goblet di sekresi sebanyak 1-2 liter atau 10-30 ml/kg cairan mukus perhari, dan membentuk selimut di mukosa hidung dan sinus paranasal. Lapisan selimut di mukosa ini dapat menangkap partikel-partikel yang dihirup melalui hidung dan sangat efisien pada partikel ukuran diameter 10 µm ataupun lebih. Sekret ini terdiri dari IgA, lisozim dan memiliki pH 5.5-6.5, dimana semua berfungsi sebagai lingkungan yang bakteriostatik. Oleh karena mahalnya suatu pemeriksaan penunjang seperti CT scan ataupun foto polos hidung dan sinus paranasal, dan sering nya overlapping gambaran pada penyakit infeksi saluran nafas atas seperti rinitis alergi ataupun rinitis virus dalam hal mendiagnosis suatu rinosinusitis. Oleh karena itu pemeriksaan sederhna untuk mendiagnosis sinusitis dengan menggunakan tes sederhana dan cepat seperti pemeriksaan pH, lekosit esterase, protein, dengan menghitung clinical score

Full Text:

PDF

References


Young, Michael D. Rhinitis, Sinusitis, and Polyposis. Allergy and Asthma Proc Vol. 19 No.14. July-August 1998.

Lanza DC, Kennedy DW. Adult Rhinosinusitis Defined: Report of The Rhinosinusitis Task Force Committee Meeting. Otolaryngol Head Neck Surgr. 1997; 117 (Suppl 3 pt 2): S1-S7.

Glicklich RE, Hilinski JM: The Health Impact of Chronic Sinusitis in Patients Seeking Otolaryngology Care. Otolaryngol Head Neck Surg. 1996; 113(1): 104-109.

Hansen JG, Schmidt H, Rosborg J, Lund E. Predicty Acute Maxillary Sinusitis in a general Practice Population. BMJ. 1995; 311:233-236.

Gwaltney JM Jr, Phillips CD, Miller RD, Riker DK. Computed Tomography Study of The Common Cold. N Engl J Med. 1994; 330 (1); 25-30.

Steven D, Pletcher, Goldberg Andrew N. Diagnosis and Treatment of Sinusitis. Adv Stu Med. 2003; 3 (9): 495-506

Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6th ed.Jakarta. EGC.; 2006.p.803-5.

Mangunkusumo E, Soetipto D. Sinusitis didalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 6th ed. Jakarta. FK UI; 2009. P. 145-53

Thaariq KA. Karakteristik Penderita Sinusitis di RSUP H. Adam Malik Medan pada Tahun 2011. FK USU. 2012

Hilger PA. penyakit Sinus Paranasal in: Adams GL, Boeis LR, Higler PH. Boeis Buku Ajar THT. Editor Effendi H. 6th ed. Jakarta. EGC; 1997.p 240-60




DOI: http://dx.doi.org/10.30596%2Fbf.v1i2.1272

Article Metrics

Abstract views : 1818 times     PDF downloads : 1332 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License.

BULETIN FARMATERA

Gedung Kampus 1 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara | UMSU

Lantai II,Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU-Jalan Gedung Arca No. 53 Medan-Sumatera Utara ,

Kode Pos 20217 Kontak: 0812-6208-2844,E-mail: farmatera@umsu.ac.id


 
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats Buletin Farmatera