PARALEGAL CONSTITUTIONAL RIGHTS AS AN EXPANSION OF DUE PROCESS FOR MARGINALIZED COMMUNITIES

Hanifah Dhyaul Haq, Ummi Hafsah Nur Anisa, Yusnita Yusnita, Muhammad Hatta Roma Tampubolon

Abstract


Artikel ini merekonstruksi hak konstitusional paralegal sebagai perluasan due process of law bagi masyarakat marjinal dalam kerangka hukum progresif dan hukum inklusi. Permasalahan utama terletak pada adanya kesenjangan antara jaminan konstitusional equality before the law dalam UUD NRI 1945 dan realitas akses keadilan yang masih terbatas bagi kelompok rentan, termasuk masyarakat adat, perempuan korban kekerasan, anak yang berhadapan dengan hukum, buruh, serta komunitas terdampak konflik agraria dan lingkungan. Di satu sisi, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 88/PUU-X/2012 memberikan legitimasi terhadap keterlibatan paralegal. Di sisi lain, Putusan Mahkamah Agung Nomor 22 P/HUM/2018 membatasi kewenangan litigasi paralegal sehingga menimbulkan antinomi hukum dan ketidakpastian normatif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif dengan analisis perbandingan hukum dan interpretasi teleologis. Studi komparatif terhadap model developmental law di Filipina, skema Para-Legal Volunteers di India, praktik paralegal komunitas di Afrika Selatan, serta model Tribal Lay Advocates di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pengakuan formal dan perlindungan hukum terhadap paralegal merupakan faktor kunci dalam memperluas akses keadilan yang partisipatif dan kontekstual.

Artikel ini menawarkan konsep “due process substantif inklusif” sebagai sintesis normatif yang menempatkan paralegal sebagai perpanjangan tangan konstitusi dalam menjembatani kesenjangan struktural antara sistem hukum formal dan masyarakat marjinal. Konsep ini menegaskan bahwa hak atas bantuan hukum tidak terbatas pada representasi profesional oleh advokat, melainkan mencakup pendampingan hukum yang efektif, berbasis komunitas, dan sensitif terhadap konteks sosial-budaya. Dengan demikian, penguatan regulasi, harmonisasi norma sektoral, serta perlindungan Anti-SLAPP bagi pendamping komunitas menjadi prasyarat untuk mewujudkan negara hukum yang berkeadilan sosial dan inklusif.


Full Text:

PDF

References


Agustiani Sianturi, K., & Marwan Hsb, A. (2023). Antinomy of paralegal authority after Supreme Court Decision No. 22 P/HUM/2018. Jurnal Rechts Vinding, 12(2), 89–110.

Asian Development Bank. (2024). Regulatory models for community paralegals in Asia. ADB Governance Working Paper Series, 19, 1–45.

Basari, T. (2023). Procedural justice gap and marginalized communities in Indonesia. Indonesian Journal of International Law, 21(1), 77–98.

Berenschot, W., & Rinaldi, T. (2023). Balancing relations in the shadow of law: Community paralegalism in Southeast Asia. Law & Policy, 45(2), 145–167.

Dugard, J., & Drage, K. (2023). Community paralegals and access to justice in post-apartheid South Africa. South African Journal on Human Rights, 39(3), 255–279.

Fadlil Sumadi, A. (2025). De lega lata analysis of advocate monopoly under Indonesian legal system. Indonesia Law Review, 15(1), 55–78. (De Lega Lata)

Hadi, F., Pranoto, B., & Lestari, D. (2025). Paralegal adat and living law integration in Indonesia. Jurnal Hukum Adat, 6(1), 101–124.

Haryadi, T., & Riviyusnita, R. (2025). Reforming paralegal certification and supervision in Indonesia. Brawijaya Law Journal, 10(2), 211–235. (De Lega Lata)

ICJ. (2023). SLAPP and public participation protection in Southeast Asia. International Commission of Jurists Policy Report, 1–60.

IDRC. (2024). Legal empowerment and refugee-led paralegal initiatives in Southeast Asia. Research Report, 1–75.

Maulana, A. (2025). Environmental defenders and Anti-SLAPP framework in Indonesia. Asia Pacific Journal of Environmental Law, 11(1), 67–90.

Minow, M. (2023). Participation, dignity, and due process in contemporary constitutionalism. Harvard Law Review, 137(4), 1642–1670.

Moscati, M. F. (2024). Reframing due process in comparative perspective. Cambridge Law Journal, 83(1), 112–134.

Namati. (2023). Community paralegals and structural justice. Law & Society Review, 55(3), 421–446.

Nurhayati, S., & Adnan, R. (2024). Access to justice gap in Indonesia: Empirical findings 2023. Asian Journal of Law and Society, 12(2), 201–224.

OECD. (2023). Justice transformation and inclusive governance. OECD Public Governance Review, 19, 1–92.

Prasetyo, R. (2024). Inclusive constitutionalism and affirmative protection. Constitutional Review, 18(2), 233–256.

Rahardjo, S. (2023). Hukum progresif dan keadilan substantif dalam negara hukum. Jurnal Hukum Progresif, 5(1), 1–19.

Schilfgaarde, L. van. (2024). Tribal lay advocates and culturally competent justice systems. North Dakota Law Review, 98(2), 301–328.

Tamanaha, B. Z. (2023). Embedded legality revisited: Legal pluralism and access to justice. Journal of Legal Pluralism, 52(1), 33–56.

Trubek, D. (2024). Legal empowerment as constitutional practice. Comparative Law Review, 45(1), 98–120.

UNDP. (2024). People-centered justice global update 2024. United Nations Development Programme Report, 1–110.

UNODC. (2023). Access to legal aid and community justice mechanisms. Technical Guide Series, 1–80.

Yuliani, E., & Santoso, H. (2025). De lega lata harmonization of legal aid regulation in Indonesia. De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum, 10(1), 45–70. (De Lega Lata)

Zainuddin, M. (2024). Constitutional guarantees and equality before the law in Indonesia. Jurnal Konstitusi, 21(3), 345–368




DOI: https://doi.org/10.30596/nomoi.v7i1.30371

Refbacks

  • There are currently no refbacks.