PERBANDINGAN UNSUR BUDAYA CERITA RAKYAT DEDAP DURHAKA (INDONESIA) DENGAN SI TANGGANG (MALAYSIA): KAJIAN SASTRA BANDINGAN

Zaskia Azdya Meca : STKIP BUDIDAYA BINJAI , Erlinda Nofasari : STKIP BUDIDAYA BINJAI , Tasya Wiranti : STKIP BUDIDAYA BINJAI

Abstract


Budaya merupakan identitas suatu masyarakat yang tercemin oleh norma adat, sosial, dan agama. Hal tersebut terkikis oleh pengaruh budaya asing yang menyebabkan menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan unsur budaya dalam cerita rakyat Dedap Durhaka dari Indonesia dan Si Tanggang dari Malaysia melalui kajian sastra bandingan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sastra bandingan. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat yang bermakna unsur budaya ditemukan dalam cerita rakyat Dedap Durhaka dan Si Tanggang. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang didukung oleh pedoman analisis unsur-unsur budaya merujuk pada teori Koentjaraningrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat tersebut memiliki persamaan pada unsur budaya, yang meliputi dari bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial, sistem religi, kesenian. Adapun perbedaannya terletak pada latar geografis, mata pencaharian, teknologi, dan bentuk penyajian cerita. Si Tanggang lebih merepresentasikan budaya maritim, sedangkan Dedap Durhaka lebih mencerminkan kehidupan masyarakat agraris. Penelitian ini menegaskan bahwa cerita rakyat tersebut, berfungsi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan identitas masyarakat. Kajian sastra bandingan dapat memperlihatkan hubungan kultural antara Indonesia dan Malaysia sebagai bangsa serumpun.


Keywords


Unsur Budaya, Sastra Bandingan, Cerita Rakyat, Dedap Durhaka, Si Tanggang

References


Agustini, N., Sari, D., & Pratama, R. (2022). Nilai budaya sebagai pedoman perilaku masyarakat dalam kehidupan sosial. Jurnal Pendidikan Sosial, 11(2), 120-129.

Al Hidayat, A., dkk. (2019). Peran cerita rakyat sebagai media pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(1), 45–54.

Awang, S. (2019). Sopan Santun Berbahasa dalam Budaya Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian budaya bangsa (Local genius). Pustaka Jaya.

Azra, A. (2018). Reinvensi Kebudayaan Serumpun di Asia Tenggara. Jurnal Sejarah dan Budaya, 12(1), 45-58.

Basalla, G. (1988). The evolution of technology. Cambridge University Press.

Bascom, W. R. (1965). The forms of folklore: Prose narratives. Journal of American Folklore, 78(307), 3–20. https://doi.org/10.2307/538099.

Bauman, R. (1986). Story, performance, and event: Contextual studies of oral narrative (Vol. 10). Cambridge University Press.

Damono, S. D. (2005). Pegangan penelitian sastra bandingan. Pusat Bahasa

Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia:Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti.

Dhoni, A. (2026, Maret 12). Anak di Lahat tega mutilasi ibu gegara tak diberi uang untuk judol. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com.

Durkheim, E. (2016). The elementary forms of religious life. In Social theory re-wired (pp. 52-67). Routledge.

Durkheim, E. (2023). The division of labour in society. In Social theory re-wired (pp. 15-34). Routledge.

Endraswara, S. (2011). Metodologi penelitian sastra bandingan. CAPS.

Finnegan, R. (2012). Oral literature in Africa. Open Book Publishers.

Firdaus, S. (2025) Indonesian and World Folklore from a Critical Literacy Perspective: A Comparative Analysis of Cultural Values and Social Identity. (2025). Austronesian: Journal of Language Science & Literature, 4(2), 135-151. https://doi.org/10.59011/austronesian.4.2.2025.135-151.

Firth, R. (2016). Pergeseran sektor domestik agraris menuju komersial maritim dalam masyarakat tradisional. Jurnal Transformasi Ekonomi Kehutanan dan Pesisir, 8(2), 99-112.

Fitrianingrum, E. (2016). Nilai Budaya dalam Cerita Batu Darah Muning dari Kecamatan Serawai Kabupaten Sintang. JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 1(2), 45-57.

Fromm, E. (2018). Disorientasi Sosial dan Individualisme Generasi Modern. Patra Media.

Geertz, C. (2015). Kekuatan Supranatural dan Konsep Karma Kosmis dalam Sistem Religi. Kebudayaan Bangsa.

Hall, S. (2019). Mekanisme Pertahanan Budaya Lokal terhadap Pengaruh Eksternal. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Harun Mat Piah. (2006). Kesusasteraan Melayu tradisional. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ihromi, T. O. (Ed.). (2017). Pokok-pokok antropologi budaya. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Indonesia. (2010). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Indonesia. (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Kafrawi, H. (2007). Dedap Durhaka. Yayasan Pusaka Riau.

Karim, M. (2019). Kearifan lokal Melayu dalam karya sastra Melayu klasik. Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 9(2), 78-90.

Koentjaraningrat, K. (1985). Mentalitas dan pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Lombard, D. (2018). Nusa Jawa: Silang Budaya (Jaringan Asia). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Madjid, N. (2019). Islam: Doktrin & Peradaban. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

McDowell, J. H. (2018). Folklore and Sociolinguistics. Humanities, 7(1), 9. https://doi.org/10.3390/h7010009.

Nabilla, N. (2026). Fenomena menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal di era globalisasi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 15(2), 45–56.

Naim, M. (2015). Tradisi merantau dan mobilitas sosial masyarakat Melayu Nusantara. Jurnal Antropologi Indonesia, 22(1), 34-47.

Nörenberg, H. (2017). The numinous, the ethical, and the body. Rudolf Otto’s “The idea of the holy” revisited. Open Theology, 3(1), 546-564.

Pacey, A. (2016). Simbol Prestise, Kemajuan Ekonomi, dan Peralatan Hidup Masyarakat Perairan. Bumi Aksara.

Propp, V. (2015). Fleksibilitas transformasi teks lisan menjadi teks tulis kesenian rakyat. Jurnal Estetika Sastra, 7(4), 112-125.

Rahman, F. (2018). Nilai budaya dalam cerita rakyat Nusantara sebagai media pembentukan karakter. Jurnal Bahasa dan Sastra, 12(2), 45–56.

Ricoeur, P. (2014). Cermin Komparatif Bangsa Serumpun Melalui Narasi Budaya. Pustaka Pelajar.

Said, E. W. (2016). Batasan geopolitik kolonial dan bertahannya akar kebudayaan lisan serumpun. Jurnal Sastra dan Politik, 11(2), 80-95.

Sawita, N., Nazurty, N., & Sulistiyo, U. (2024). A Systematic Review of Cultural Values in Indonesian Folklore: Preserving Local Wisdom through Educational Integration. PPSDP International Journal of Education, 3(2), 279–294. https://doi.org/10.59175/pijed.v3i2.318.

Spivak, G. C. (2015). Dinamika hibriditas budaya akibat pengaruh politik kolonial teritorial. Jurnal Kajian Budaya Pascakolonial, 5(1), 12-29.

Sunarto. (2020). Hubungan patron-klien dan stratifikasi sosial dalam pelupaan asal-usul tokoh fiksi. Jurnal Sosiologi Kontemporer, 9(3), 142-155.

Supriyanto, dkk. (2025). Cerita rakyat sebagai cerminan nilai, norma, dan identitas budaya suatu masyarakat. Jurnal Ilmiah Sastra Melayu, 13(1), 60-72.

Sweeney, A. (2015). Estetika Lisan Melayu dan Gaya Bahasa Berirama Pencerita. Pustaka Obor.

Supriyanto, dkk. (2025). Cerita rakyat sebagai cerminan nilai, norma, dan identitas budaya suatu masyarakat. Jurnal Ilmiah Sastra Melayu, 13(1), 60-72.

Tia Alfioda. (2021). Eksistensi folklor dan sastra lisan sebagai identitas budaya lokal daerah. Jurnal Bahasa dan Tradisi, 3(2), 77-89.

UNESCO. (2018). Riset Akademik dalam Pelestarian Khazanah Warisan Budaya Takbenda. ParisUNESCO Document Series.

Yusof, M., Harun, K., Mis, M. A., Jaafar, S. R. S., & Baharuddin, R. (2022). Penguasaan Peraturan Tatabudaya Melayu dalam Komunikasi Mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Jurnal Linguistik, 26(2), 080-09.




DOI: https://doi.org/10.30596/jpbsi.v7i2.31114

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Bahterasia: Scientific Journal of Indonesian Language and Literature Education is abstracting & indexing in the following databases: