Investigation of the Appearance of Fajr Ṣādiq as the Basis for Determining the Beginning of Subuh Prayer Time Using a Sky Quality Meter at Mount Kerinci.

Rahmadi Rahmadi : UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi , Arman Abdul Rochman

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemunculan fajar subuh sebagai dasar penentuan awal waktu shalat subuh menggunakan Sky Quality Meter (SQM) di kaki Gunung Kerinci, Provinsi Jambi. Latar belakang penelitian ini muncul dari perbedaan kriteria sudut depresi matahari yang digunakan untuk menentukan awal waktu subuh, khususnya antara −18° dan −20°, serta temuan empiris yang menunjukkan pengaruh signifikan kualitas langit malam dan kondisi atmosfer terhadap visibilitas fajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan pengamatan berkelanjutan yang dilakukan selama 14 hari dari tanggal 23 Oktober hingga 6 November 2025. Data kecerahan langit malam dianalisis menggunakan metode pencocokan gradien polinomial orde keenam untuk mendeteksi titik infleksi dalam peningkatan kecerahan, yang diinterpretasikan sebagai kemunculan fajar subuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas langit malam selama periode pengamatan berkisar antara 14 hingga 17 MPASS, jauh di bawah ambang batas ideal 20,35 MPASS. Peningkatan signifikan pada kecerahan fajar terdeteksi ketika Matahari berada pada sudut depresi antara −11° dan −14°, yang berbeda dari kriteria referensi yang umum digunakan. Perbedaan ini disimpulkan sebagai akibat dari kondisi cuaca dan atmosfer yang tidak ideal, bukan koreksi terhadap kriteria yang telah ditetapkan untuk awal waktu Subuh. Studi ini menekankan pentingnya pengamatan jangka panjang dan pemilihan kondisi langit ideal dalam studi empiris penentuan waktu shalat Subuh.


Full Text:

PDF

References


Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 734/Kep/I.0/B/2021 tentang Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional XXXI Tarjih Muhammadiyah tentang Kriteria Awal Waktu Subuh,” 2021, Yogyakarta.

H. Putraga, “Tinjauan Saintifik Awal Waktu Subuh di Sumatera Utara,” in Prosiding Observatorium dan Astronomi Islam (POAI), 2020, p. 34.

T. Firmansyah, “ISRN: Waktu shalat subuh dan isya perlu dievaluasi,” 2017. [Online]. Available: https://www.republika.co.id/berita/duniaislam/islam-nusantara/17/08/21/ov1amm377-isrnwaktu-shalat-subuh-dan-isya-perlu-dievaluasi

A. Damanhuri and A. Solikin, “Batas kualitas langit yang ideal untuk lokasi observasi awal waktu subuh,” Al-Marshad J. Astron. Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan, vol. 8, no. 1, 2022, doi: 10.30596/jam.v8i1.9355.

M. Basthoni, “Efek polusi cahaya terhadap penentuan awal waktu Subuh di Indonesia,” Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Indonesia, 2022.

A. J. R. Butar-Butar, Fajar dan syafak dalam kesarjanaan astronomi Muslim dan ulama Nusantara. Yogyakarta: LKiS, 2018.

A. A. Rochman, D. Herdiwijaya, and H. Setyanto, “Tingkat kepercayaan fitting polinomial kurva gradien data SQM untuk menentukan kemunculan fajar,” J. Multidiscip. Acad., vol. 1, no. 1, pp. 16–24, 2019.

Unihedron Instruments, “SQM-LU-DL Operator’s Manual,” 2025. [Online]. Available: https://www.unihedron.com/projects/darksky/cd/SQM-LU-DL/SQM-LU-DL_Users_manual.pdf

B. Holben and others, “Aerosol Properties in Volcanic Regions,” J. Geophys. Res. Atmos., 2001.

K. Krisciunas, “Effects of Thin Clouds on Sky Brightness,” Publ. Astron. Soc. Pacific, 2017.




DOI: https://doi.org/10.30596/jam.v12i1.28884

Refbacks

  • There are currently no refbacks.