LEKSIKON TAKJIL TRADISIONAL MELAYU TAMIANG SEBAGAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU TAMIANG
Abstract
Leksikon nama kuliner tradisional menyiratkan makna budaya yang penting untuk digali dan diinterpretasikan dalam kaitannya dengan pengungkapan nilai -nilai simbolik dan budaya yang dikandungnya.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan leksikon takjil masyarakat Melayu Tamiang. Pembahasan berkaitan dengan leksikon kuliner yang muncul dari hidangan takjil tradisional dan bagaimana hubungannya dengan budaya masyarakatnya. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografis berancangan antropolinguistik. Sumber data penelitian adalah tuturan lisan para informan sebagai narasumber. Hasil penelitian pada takjil tradisional antara lain Bubur pedas, Anyang, Temuling, dan Kue Rasidah, ditemukan 125 leksikon yang terbagi menjadi tiga, yaitu 67 leksikon bahan, dua puluh enam leksikon cara pengolahan, dan tiga puluh dua leksikon alat. Fungsi dan nilai simbolik mempresentasikan bahwa kuliner takjil tradisional merupakan makanan ciri khas berbuka puasa di bulan Ramadan dan diyakini kurang lengkap bila hidangan takjil tidak dibuat atau disajikan. Kuliner takjil tradisional merepresentasikan simbol dan makna yang berhubungan erat dengan jati diri sosial budaya masyarakat Melayu Tamiang . Temuan penelitian bermanfaat untuk dokumentasi produk budaya kuliner lokal sebagai upaya revitalisasi serta pemertahanan budaya tradisional menghadapi restorasi dan keuniversalan. Manah kolektif masyarakat Melayu Tamiang terwujud dalam sikap, prilaku, dan tata nilai serta norma yang berlaku dalam suatu masyarakat sebagai kearifan lokal.
Full Text:
PDFReferences
Adrianto, A. (2014). Jajan Pasar Makanan Tradisional Masyarakat Jawa. Jantra, 11-18. http://
`r e positori.kemdikbud.go. id/5131/1/Jantra_Vol._9_No._1_ Juni_2014.pdf.
Budi, N. S. (2014). Mie Des Khas Kuliner Tradisional Pundong, Bantul, Yogyakarta. Jantra, 29-
http:// r e positori.kemdikbud.go. id/5131/1/Jantra_Vol._9_No._1_ Juni_2014.pdf.
Caplan, P. (1997). Approaches to the study of food, health and identity. Dalam P. Caplan, Food,
Health and Identity (hal. Routledge. 1-31). London: https://www. taylorfrancis.com/books/foodhe a l t h- i d e n t i t y- p a t caplan/10.4324/9780203443798.
Davina, D. (2021, April 18). Mie juhi, makanan khas betawi yang diburu warga saat Ramadan.
KompasTV. https://www.kompas.tv/article/165867/mie-juhi-makanan-khas-betawi-yang-diburu-warga-saat-ramadan
Fitriasia, D. (2019). Kuliner Tradisional Dalam Bahasa Aceh : Kajian Linguistik Kuliner.
Disertasi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sumatera Utara.
Foley, W. (1997). Anthropological linguistics: An introduction. Blackwell Publishing.
Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. New York: Cambrigde University Press
Gerhardt, O., Frobenius, M., & Ley, S. (2013). Culinary Linguistics (C. Gerhardt, M. Frobenius,S.
Ley (eds.); Vol. 10). John Benjamins Publishing Company. htthtps://doi.org/10.1075/clu.10
Hall, C. M., & Mitchell, R. (2001). Wine and Food Tourism.
Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Lubis, T. (2019). Learning Nandong in schools as a medium to inform the Simeuluenese local
wisdom: An anthropolinguistics approach. Studies in English Language and Education, 6(2), 262–272.
Moleong, L. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya.
Montanari, M. (2006). Food Is Culture. New York: Columbia University Press
Sibarani, R. (2013). Pendekatan Antropolinguistik dalam Menggali Kearifan Lokal sebagai
Identitas Bangsa. The5 International Conference on Indonesian Studies: Ethnicity and Globalization (hal. 274-290). Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Sibarani, R. (2015). Pendekatan Antropolinguistik Terhadap Kajian Tradisi Lisan. Jurnal Ilmu
Bahasa RETORIKA, 1(1), 274–290.
Lubis, T., Sibarani, R., Lubis, S., & Azhari, I. (2022). Cultural Performance of Oral Tradition
Nandong Simeulue as Human Resource for Ecotourism: A Linguistic Anthropology Study. Proceedings of the International Conference on Natural Resources and Sustainable Development, 428–432. https://doi.org/10.5220/0009904100002480
Setiawan, R. (2016). Memaknai Tradisi Kuliner di Nusantara: Sebuah Tinjauan Etis. Respons, 113-
http://ejournal.atmajaya.ac.id/ index.php/response/article/ view/527.
TW Emelia, S Ramadhani. (2021). Kekayayan Rempah Dalam Tradisi Bubur Pedas Melayu
Tamiang: Kajian Tradisi Lisan Bahterasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2 (2), 22-2
Tyas, A. S. (2017). Identifikasi Kuliner Lokal Indonesia dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.
Jurnal Pariwisata Terapan, 1-13. https://jurnal.ugm. ac.id/jpt/article/view/24970
Wierzbicka, A. (1997). Understanding Culture through Their Key Words: English, Russian, Polish,
German and Japanese. New York: Oxford University Press.
DOI: https://doi.org/10.3059/insis.v0i0.23806
DOI (PDF): https://doi.org/10.3059/insis.v0i0.23806.g13110
Refbacks
- There are currently no refbacks.



