Actualizing The Values of Democracy and Deliberation Through the Saparan Tradition to Strengthen Interreligious Harmony in Polobogo Village

Siti Nuraini Bobihoe, Institut Teknologi Bisnis AAS Indonesia
Received: 2026-07-02
Accepted: 2026-10-17
Published: 2026-11-07

Abstract


Abstract: This study aims to analyze the actualization of the fourth principle of Pancasila, namely, "people's empowerment guided by the wisdom of deliberation/representation," through the Saparan tradition in Polobogo Village, Getasan District, Semarang Regency, and its contribution to strengthening interfaith harmony. The Saparan tradition is not only a cultural heritage but also encompasses the practice of deliberation in determining the timing of implementation, the division of tasks, and the collective management of resources. The study employed a qualitative descriptive method with documentation techniques utilizing scientific literature, previous research, village government archives, and various sources discussing the Saparan tradition in Polobogo and the surrounding area. The results indicate that the process of community deliberation, mutual cooperation, and consensus-based decision-making reflect the implementation of Pancasila's democratic values in community life. Furthermore, the involvement of residents, regardless of religious background, strengthens social cohesion and interfaith harmony. These findings confirm that local traditions serve as an effective medium for internalizing Pancasila values and strengthening religious moderation based on local wisdom at the community level.

Keywords: Saparan Tradition; Fourth Principle of Pancasila; Deliberation; Interfaith Harmony; Polobogo Village

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktualisasi nilai sila keempat Pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, melalui tradisi Saparan di Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, serta kontribusinya terhadap penguatan kerukunan antarumat beragama. Tradisi Saparan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memuat praktik musyawarah dalam penentuan waktu pelaksanaan, pembagian tugas, dan pengelolaan sumber daya secara kolektif. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi dokumentasi yang memanfaatkan literatur ilmiah, hasil penelitian terdahulu, arsip pemerintahan desa, dan berbagai sumber yang membahas tradisi Saparan di Polobogo maupun wilayah sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses rembug warga, gotong royong, dan pengambilan keputusan secara mufakat mencerminkan implementasi nilai demokrasi Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, keterlibatan warga tanpa membedakan latar belakang agama memperkuat kohesi sosial dan kerukunan antarumat beragama. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi lokal berperan sebagai media efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila serta memperkuat moderasi beragama berbasis kearifan lokal di tingkat komunitas.

Kata Kunci: Tradisi Saparan; Sila Keempat Pancasila; Musyawarah; Kerukunan Antarumat Beragama; Desa Polobogo


Keywords


Tradisi Saparan; Sila Keempat Pancasila; Musyawarah; Kerukunan Antarumat Beragama; Desa Polobogo

Full Text:

PDF

References


Adhani, L. L., & Rusdini, S. E. (2026). Tradisi Saparan sebagai akulturasi budaya dan nilai kearifan lokal di Dusun Ploso, Kota Salatiga. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 5(2), 1437–1448. https://doi.org/10.55681/sentri.v5i2.5608

Agung, D. A. G., Nasih, A. M., Sumarmi, Idris, & Kurniawan, B. (2024). Local wisdom as a model of interfaith communication in creating religious harmony in Indonesia. Social Sciences & Humanities Open, 9, Article 100827. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2024.100827

Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice. Addison-Wesley.

Anisa, A., Sopyan, A., Sumin, Hamzah, N., & Jais, A. (2025). Peran kearifan lokal sebagai mediator dalam hubungan moderasi beragama terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia. At-Thullab: Jurnal Mahasiswa Studi Islam, 7(2), 232–254. https://doi.org/10.20885/tullab.vol7.iss2.art2

Banks, J. A. (Ed.). (2008). Diversity and citizenship education: Global perspectives. Jossey-Bass.

Cohen, J. (1989). Deliberation and democratic legitimacy. In A.

Hamlin & P. Pettit (Eds.), The good polity: Normative analysis of the state (pp. 17–34). Basil Blackwell.

Firdausy, W., & Arsyad, M. N. (2023). Sikap toleransi masyarakat di Desa Kranggan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Innovative: Journal of Social Science Research, 3(3), 7302–7314. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/2991

Habermas, J. (1996). Between facts and norms: Contributions to a discourse theory of law and democracy (W. Rehg, Trans.). MIT Press.

Handayani, W. T., & Ningrum, K. C. (2024). Komunikasi budaya dalam tradisi Saparan: Studi kasus Festival Yaqowiyu di Jatinom, Kabupaten Klaten. Jurnal at-Taghyir: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Desa, 7(1). https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/taghyir/article/view/13113

Handayani, W. T., & Ningrum, K. C. (2024). Komunikasi budaya dalam tradisi Saparan: Studi kasus Festival Yaqowiyu di Jatinom, Kabupaten Klaten. Jurnal at-Taghyir: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Desa, 7(1), 181–202.

Haryanto, J. T. (2016). Pesan kerukunan cerita lisan masyarakat Tengger Desa Ngadas Kabupaten Malang. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi, 2(2), 131–142.

Haryanto, J. T. (2016). Pesan kerukunan cerita lisan masyarakat Tengger Desa Ngadas Kabupaten Malang. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 2(2), 131–142.

Nugeraheni, R. A., Lattu, I. Y. M., Suwarto, & Tampake, T. (2024). Nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Kenduri sebagai sarana memperkuat solidaritas antar umat beragama. Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 6(2). https://doi.org/10.35909/visiodei.v6i2.518

Nugeraheni, R. A., Lattu, I. Y. M., Suwarto, & Tampake, T. (2024). Nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Kenduri sebagai sarana memperkuat solidaritas antar umat beragama. Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 6(2). https://doi.org/10.35909/visiodei.v6i2.518

Oldenburg, R. (1999). The great good place: Cafés, coffee shops, bookstores, bars, hair salons, and other hangouts at the heart of a community (3rd ed.). Marlowe & Company.

Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.

Taylor, C. (1994). The politics of recognition. In A. Gutmann (Ed.), Multiculturalism: Examining the politics of recognition (pp. 25–74). Princeton University Press. https://doi.org/10.1515/9781400821402-004




DOI: https://doi.org/10.30596/pcej.v5i3.31360

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Siti Nuraini Bobihoe